Kategori : ResonansiWednesday, 13 May 2009

missumomDiambil dari Milis Resonansi 2003, Semoga cerita di bawah ini bisa diambil hikmahnya…
_____________________

Hukum kekekalan energi dan semua agama menjelaskan bahwa apapun yang kita lakukan pasti akan dibalas sempurna kepada kita. Apabila kita melakukan energi positif atau kebaikan maka kita akan mendapat balasan berupa kebaikan pula. Begitu pula bila kita melakukan energi negatif atau keburukan maka kitapun akan mendapat balasan berupa keburukan pula. Kali ini izinkan saya menceritakan sebuah pengalaman pribadi yang terjadi pada 2003.

Pada September-Oktober 2003 isteri saya terbaring di salah satu rumah sakit di Jakarta. Sudah tiga pekan para dokter belum mampu mendeteksi penyakit yang diidapnya. Dia sedang hamil 8 bulan. Panasnya sangat tinggi. Bahkan sudah satu pekan isteri saya telah terbujur di ruang ICU. Sekujur tubuhnya ditempeli kabel-kabel yang tersambung ke sebuah
layar monitor.

Suatu pagi saya dipanggil oleh dokter yang merawat isteri saya. Dokter berkata, “Pak Jamil, kami mohon izin untuk mengganti obat ibu”. Sayapun menjawab “Mengapa dokter meminta izin saya?Bukankan setiap pagi saya membeli berbagai macam obat di apotek dokter tidak meminta
izin saya” Dokter itu menjawab “Karena obat yang ini mahal Pak Jamil.” “Memang harganya berapa dok?” Tanya saya. Dokter itu dengan mantap menjawab “Dua belas juta rupiah sekali suntik.” “Haahh 12 juta rupiah dok, lantas sehari berapa kali suntik, dok? Dokter itu
menjawab, “Sehari tiga kali suntik pak Jamil”.

Setelah menarik napas panjang saya berkata, “Berarti satu hari tiga puluh enam juta, dok?” Saat itu butiran air bening mengalir di pipi. Dengan suara bergetar saya berkata, “Dokter tolong usahakan sekali lagi mencari penyakit isteriku, sementara saya akan berdoa kepada Yang
Maha Kuasa agar penyakit istri saya segera ditemukan.” “Pak Jamil kami sudah berusaha semampu kami bahkan kami telah meminta bantuan berbagai laboratorium dan penyakit istri Bapak tidak bisa kami deteksi secara tepat, kami harus sangat hati-hati memberi obat karena
istri Bapak juga sedang hamil 8 bulan, baiklah kami akan coba satu kali lagi tapi kalau tidak ditemukan kami harus mengganti obatnya, pak.” jawab dokter.

Setelah percakapan itu usai, saya pergi menuju mushola kecil dekat ruang ICU. Saya melakukan sembahyang dan saya berdoa, “Ya Allah Ya Tuhanku… aku mengerti bahwa Engkau pasti akan menguji semua hamba-Mu, akupun mengerti bahwa setiap kebaikan yang aku lakukan pasti akan Engkau balas dan akupun mengerti bahwa setiap keburukan yang pernah aku lakukan juga akan Engkau balas. Ya Tuhanku… gerangan keburukan apa yang pernah aku lakukan sehingga Engkau uji aku dengan sakit isteriku yang berkepanjangan, tabunganku telah terkuras, tenaga dan pikiranku begitu lelah. Berikan aku petunjuk Ya Tuhanku. Engkau Maha Tahu bahkan Engkau mengetahui setiap guratan urat di leher nyamuk. Dan Engkaupun mengetahui hal yang kecil dari itu. Aku pasrah kepada Mu Ya Tuhanku. Sembuhkanlah istriku. Bagimu amat mudah menyembuhkan istriku, semudah Engkau mengatur milyaran planet di
jagat raya ini.”

Ketika saya sedang berdoa itu tiba-tiba terbersit dalam ingatan akan kejadian puluhan tahun yang lalu. Ketika itu, saya hidup dalam keluarga yang miskin papa. Sudah tiga bulan saya belum membayar biaya sekolah yang hanya Rp. 25 per bulan. Akhirnya saya memberanikan diri mencuri uang ibu saya yang hanya Rp. 125. Saya ambil uang itu, Rp 75 saya gunakan untuk mebayar SPP, sisanya saya gunakan untuk jajan.

Ketika ibu saya tahu bahwa uangnya hilang ia menangis sambil terbata berkata, “Pokoknya yang ngambil uangku kualat… yang ngambil uangku kualat…” Uang itu sebenarnya akan digunakan membayar hutang oleh ibuku. Melihat hal itu saya hanya terdiam dan tak berani mengaku bahwa sayalah yang mengambil uang itu.

Usai berdoa saya merenung, “Jangan-jangan inilah hukum alam dan ketentuan Yang Maha Kuasa bahwa bila saya berbuat keburukan maka saya akan memperoleh keburukan. Dan keburukan yang saya terima adalah penyakit isteri saya ini karena saya pernah menyakiti ibu saya dengan mengambil uang yang ia miliki itu.” Setelah menarik nafas panjang saya tekan nomor telepon rumah dimana ibu saya ada di rumah menemani tiga buah hati saya. Setelah salam dan menanyakan kondisi anak-anak di rumah, maka saya bertanya kepada ibu saya “Bu, apakah ibu ingat ketika ibu kehilangan uang sebayak seratus dua puluh lima rupiah beberapa puluh tahun yang lalu?”

“Sampai kapanpun ibu ingat Mil. Kualat yang ngambil duit itu Mil, duit itu sangat ibu perlukan untuk membayar hutang, kok ya tega-teganya ada yang ngambil,” jawab ibu saya dari balik telepon. Mendengar jawaban itu saya menutup mata perlahan, butiran air mata mengalir di pipi.

Sambil terbata saya berkata, “Ibu, maafkan saya… yang ngambil uang itu saya, bu… saya minta maaf sama ibu. Saya minta maaaaf… saat nanti ketemu saya akan sungkem sama ibu, saya jahat telah tega sama ibu.” Suasana hening sejenak. Tidak berapa lama kemudian dari balik
telepon saya dengar ibu saya berkata: “Ya Tuhan pernyataanku aku cabut, yang ngambil uangku tidak kualat, aku maafkan dia. Ternyata yang ngambil adalah anak laki-lakiku. Jamil kamu nggak usah pikirin dan doakan saja isterimu agar cepat sembuh.” Setelah memastikan bahwa ibu saya telah memaafkan saya, maka saya akhiri percakapan dengan memohon doa darinya.

Kurang lebih pukul 12.45 saya dipanggil dokter, setibanya di ruangan sambil mengulurkan tangan kepada saya sang dokter berkata “Selamat pak, penyakit isteri bapak sudah ditemukan, infeksi pankreas. Ibu telah kami obati dan panasnya telah turun, setelah ini kami akan operasi untuk mengeluarkan bayi dari perut ibu.” Bulu kuduk saya merinding mendengarnya, sambil menjabat erat tangan sang dokter saya berkata. “Terima kasih dokter, semoga Tuhan membalas semua kebaikan dokter.”

Saya meninggalkan ruangan dokter itu…. dengan berbisik pada diri sendiri “Ibu, I miss you so much.”
__________________
Sumber:
*) “Ibu, I Miss You So Much” oleh Jamil Azzaini, Senior Trainer dan penulis buku Best Seller ‘KUBIK LEADERSHIP; Solusi Esensial Meraih Sukses dan Kemuliaan Hidup’.
*) Milis Resonansi 2003 ~
*) Image from : http://frisformasi.files.wordpress.com ( Thanks … )

Kategori : Resonansi, MotivasiSunday, 27 August 2006

Wenny sudah setahun bergabung dengan perusahaan asuransi jiwa sebagai branch manager. Lumayan sih prestasinya. Paling tidak, penghasilan cabang yang dipimpinnya selalu mencapai target. Secara pribadi, dia sendiri setiap bulan pasti mendapat nasabah juga.

Kadang-kadang satu atau dua nasabah per bulan tapi pernah juga lima nasabah dalam sebulan. Selain mencari nasabah, dia juga bertugas memotivasi para konsultannya, menemani mereka bertemu nasabah, mencari konsultan baru, dan memimpin operasional kantor cabang tersebut.

Sebelum bergabung dengan perusahaan asuransi ini, Wenny dulu bekerja sebagai manajer di perusahaan consumer goods. Sebetulnya posisi Wenny sudah bagus di perusahaan tersebut. Prestasi kerjanya sangat bagus. Wenny juga suka sekali bekerja di sana.

Hubungan dengan atasan dan sesama rekan kerja sangat baik. Kompak sekali. Tapi Wenny adalah orang yang suka tantangan. Ketika salah seorang teman mengajaknya bergabung dengan perusahaan asuransi sebagai branch manager, dia merasa sangat tertantang dan memutuskan untuk menerima tawaran tersebut.

Ketika Wenny mengajukan surat pengunduran dirinya, pimpinannya sampai menyempatkan diri bertemu Wenny dan menyarankan agar Wenny memikirkan ulang keputusannya. Beliau mengusulkan agar Wenny menggunakan waktu sekitar dua minggu lagi untuk mempertimbangkan kembali keputusannya.

Bahkan beliau mengatakan seandainya Wenny berubah pikiran, dan tidak jadi keluar, maka surat pengunduran dirinya itu akan diabaikan oleh beliau. Beliau sangat mengharapkan agar Wenny tetap bekerja di sana. Tapi waktu itu, Wenny sangat mantap dan yakin dengan keputusannya. Apalagi suaminya juga mendukung keputusannya.

Setelah satu tahun bergabung di perusahaan yang baru ini, Wenny tetap bersemangat tinggi. Mengingat hubungan baik dengan atasannya, maka Wenny memutuskan untuk menawarkan produknya kepada pimpinan perusahaan tempatnya bekerja dulu. Sulitnya, beliau selalu tiba di kantor pagi-pagi sekali sebelum pukul setengah tujuh. Begitu beliau masuk ke dalam, jangan harap bisa diganggu.

Pagi-pagi, beliau langsung memeriksa semua surat-surat yang masuk kemarin hingga pukul delapan, baru langsung bekerja. Beliau baru pulang sekitar pukul delapan malam. Beliau sangat sibuk. Sulit sekali ditemui.

Wenny tidak mau menyerah terhadap setiap tantangan. Semakin sulit tantangan, dia semakin bersemangat. Wenny segera memutuskan untuk menemui beliau sebelum beliau masuk kantor. Itu adalah satu-satunya kesempatan untuk bisa bertemu langsung dengan beliau. Sebelum pukul setengah tujuh, Wenny sudah tiba di lobi gedung perkantoran tersebut. Karena memang sudah kenal baik ketika dulu menjadi karyawan di perusahaan tersebut, maka pimpinan tersebut menerima kunjungan Wenny dengan ramah. Beliau sempat menanyakan perkembangan Wenny setelah bergabung di perusahaan yang baru.

Kemudian Wenny menawarkan produknya. Dia berjanji untuk datang lagi keesokan harinya dan mengirimkan proposal. Setelah itu berjalanlah proses penjualan. Setiap Selasa pagi Wenny datang ke kantor tempatnya bekerja dulu untuk menemui mantan atasannya. Kemajuan yang diperoleh sangat sedikit. Berbulan-bulan tidak ada kemajuan. Beliau sangat sibuk sehingga setiap kali bertemu, baru beliau ingat tentang penawaran Wenny.

Tapi Wenny tidak putus asa. Setiap Selasa pagi dia selalu siap menunggu di lobi gedung perkantoran itu untuk menemui mantan atasannya. Pernah suatu kali, entah karena sedang banyak masalah, beliau datang ke kantor dengan ekspresi tergesa-gesa.

Melihat Wenny, beliau tidak tersenyum, tapi beliau mengatakan kata-kata yang sangat mengejutkan: “Aduh Wenny. Terus terang, lama-lama saya eneg [mual] melihat you.” Dalam hatinya, Wenny sangat terkejut. Dia tidak menyangka kata-kata semacam itu akan diucapkan kepadanya.

Tapi Wenny cepat menanggapi dengan sikap positif dan penuh percaya diri. Dia menjawab dengan nada suara tetap ramah dan percaya diri. Sambil tetap tersenyum, tanpa beban, tanpa rasa tersinggung, dan dengan hati yang tulus, Wenny menjawab:”Aduh, maaf Pak. Saya hanya ingin mengirimkan proposal yang baru ini.”

Kemudian sambil tetap tersenyum dia minta diri. Minggu depannya, Selasa, Wenny tetap datang berkunjung lagi. Begitu seterusnya, dia tidak pernah absen.

Setahun sudah berlalu, dan usaha Wenny tampaknya sia-sia. Belum ada hasil. Hari ini tepat satu tahun sejak Wenny menghubungi beliau. Wenny sudah hampir putus asa. Dia sempat berpikir kalau hari ini beliau tidak mau lagi, maka Wenny akan menyerah. Pagi ini Wenny datang lagi dengan semangat baru. Seperti biasa dia menunggu beliau di lobi.

Ketika beliau datang, Wenny segera memberikan salam. Beliau berkata: “Wenny, kemarin saya sudah check up ke rumah sakit.” Memang beliau harus mengikuti cek kesehatan dulu karena beliau menderita tekanan darah tinggi ringan. Wenny terkejut:”Check up?” “Ya”, jawab beliau. “Kemarin?” tanya Wenny terheran-heran. Ternyata pada hari Minggu beliau sudah cek medis sendiri ke rumah sakit.

Rasanya tidak percaya. Ternyata usaha Wenny selama setahun tidak sia-sia. Dia mendapatkan nasabah, dan Wenny juga merasa puas telah memberikan jasa pelayanan yang baik dalam membantu beliau. Never give up! You never know when success will come!
_________________________
Sumber: Potensi Diri - Pantang Menyerah oleh Lisa Nuryanti, Pemerhati Etika dan Kepribadian ( by milist Resonansi - Wed, 02 Aug 2006 )

Kategori : Cahaya Inspirasi, ResonansiFriday, 21 April 2006

Ibu RA. KartiniIbu kita Kartini putri sejati
Putri Indonesia harum namanya
Ibu kita Kartini pendekar bangsa
Pendekar kaumnya untuk merdeka
Wahai Ibu kita Kartini putri yang mulia
Sungguh besar cita-citanya bagi Indonesia
— Kartini, (W.R. Soepratman)

Kartini, Raden Ajeng/Ayu (bukan nama depan) adalah perempuan yang selayaknya menjadi kebanggaan bangsa. Tetapi cukupkah sekedar membanggakannya, memberinya gelar pahlawan, atau memperingati hari lahirnya? Bagaimana dengan gagasan-gagasannya, siapa yang berani mengimplementasikannya? Siapa yang setia dan konsisten berjuang bagi orang lain, bahkan hingga berkorban? Pengorbanan yang bahkan prinsipil.

Kartini berkorban dengan darah dan air mata. Tak banyak yang tahu atau peduli manakala hatinya kesakitan, menangis tersedu, saat ia tak boleh sekolah, semata-mata karena seorang perempuan. Ia dipingint, seperti banyak perempuan lain saat itu. Itulah pengorbanan. Padahal mimpi dan cita-citanya bersekolah adalah untuk kemajuan bangsa dan kemajuan perempan, “Dan tidak hanya untuk perempuan saja, tetapi untuk masyarakat Bumiputra seluruhnya pengajaran kepada anak-anak merupakan berkah?” (surat 31-1-1901)

Adalah benar adanya pernyataan Kartini itu. Kartiini hadir dengan gagasan dan praktek pembebasan bukan hanya untuk perempuan tetapi juga untuk masyarakat terjajah, kemiskinan dan adat istiadat yang merugikan. Kartini mengaktualisasikannya dengan antara lain membantu pengrajin perak dan kayu. Kartini menjadi mediator yang menerima pesanan dari Belanda kepada pengrajin. Kartini pun berupaya agar pengrajin lebih dapat meningkatkan mutu desainnya dengan mengadakan semacam training dan meminta tolong kepada yang lebih ahli. (more…)

Kategori : Cahaya Inspirasi, Resonansi

Televisi pertama kali masuk ke kampung kami kira-kira 25 tahun lalu. Waktu itu saya masih di kelas lima SD. Pemiliknya adalah tetangga dekat kami. Hampir semua orang di kampung itu memanggil pemilik rumah itu ‘IBU.’ Televisi itu 14 inci, hitam-putih. Sebelum ia bisa mengeluarkan gambar sebagaimana layaknya televisi, kerepotan demi kerepotan terjadi di sekitar rumah. Misalnya, di depan rumah IBU harus ditanamkan antena lebih kurang lima meter. Pohon cengkeh di depan rumah kalah sama itu antena. Kerepotan lain adalah menyambung- nyambungkan kabel. Melekatkannya di dinding rumah IBU yang besar itu.

Itu adalah tontonan yang menarik bagi anak-anak seusia saya. Kami mengerumuni para pekerja yang mengerjakannya. Melihat-lihat penuh rasa ingin tahu. Saya, didalam hati bahkan punya target sendiri: saya harus jadi saksi sejarah pertama melihat siaran televisi di kampung kami.

Ketika televisi itu kemudian menyala, hati saya bertempik sorak. Kawan-kawan dan saya segera menerobos masuk ke rumah IBU, dengan sedikit malu-malu, untuk menontonnya. Seingat saya, acara sore itu adalah paduan suara anak2 asuhan Pranajaya, dengan lagu: “Siapa yang paling manis, pasti mama tersayang….”. (more…)

Kategori : Cahaya Inspirasi, ResonansiMonday, 20 March 2006

Bala bencana di pulau Sumatra sampai Papua, dari mulai bencana banjir bandang, longsor, busung lapar, sampai gempa bumi menyambut tahun 2006. Tidak sedikit saudara-saudara kita yang merasakan kepedihan karena kehilangan segala yang teramat penting dalam kehidupan ini. Bencana itu kian menambah pelik persoalan yang harus dihadapi oleh bangsa ini.

Saya hanya ingin menyampaikan bahwa kepedihan itu sebenarnya bisa menjadi hadiah terindah bagi kita. Kepedihan yang kita alami akan menjadi hadiah yang terindah bila kita sadari bahwa kepedihan itu adalah sebuah titik balik untuk mencapai kesuksesan, kebahagiaan maupun kedamaian spritual. Maka kita harus dapat memetik hikmah dari semua itu.

Di penghujung tahun 2004 Aceh ditimpa gempa bumi dan tsunami. Ratusan ribu orang terhempas, kehilangan harta benda, sanak saudara, bahkan keluarga tercinta. Salah satu hadiah terindah dari bencana itu adalah dipersatukannya bangsa ini setelah sekian lama terlibat konflik dengan GAM (Gerakan Aceh Merdeka).

Contoh lain adalah bencana banjir bandang dan tanah longsor yang sedang melanda berbagai tempat di negri ini. Sebenarnya itu merupakan teguran bagi orang-orang yang telah merusak lingkungan hidup dan mereka yang memiliki kekuatan supaya bertindak lebih bijaksana terhadap kelestarian lingkungan. Bila bencana ini diikuti dengan perubahan sikap yang lebih arif, maka kelestarian lingkungan akan terjaga dan bencana ini tidak terulang lagi. (more…)

Kategori : Cahaya Inspirasi, ResonansiThursday, 16 March 2006

Salah satu hal yang paling saya syukuri dalam hidup ini adalah memiliki begitu banyak sahabat. Mungkin terkesan amat klise namun ijinkanlah saya berbagai cerita tentang pengaruh para sahabat saya. Mereka tidak hanya membuat saya makin baik dari hari ke hari tetapi senantiasa menyemangati saya ketika saya sedang patah semangat. Tak terbayangkan apa jadinya hidup ini tanpa mereka. Saat-saat senang, bisa kami nikmati bersama sehingga kegembiraan itu berlipat ganda nilainya. Begitu pun saat-saat susah, kami saling berbagi, saling memberi semangat dan saling mendoakan sehingga beban hidup pun
berkurang beratnya.

Sahabat-sahabat saya sangat mempengaruhi pola pikir saya. Sebagian dari mereka bahkan usianya jauh di atas saya. Itulah yang terkadang membuat sebagian orang terkadang mencap saya terlalu cepat dewasa. Bagi saya, itu sah-sah saja. “Lagipula tak ada salahnya kita lebih cepat dewasa daripada terlambat dewasa,” begitu nasihat seorang sahabat saya.

Sahabat-sahabat saya membuat saya lebih bergairah dalam mengarungi hidup ini. Jelas sekali bagi saya kalau kesuksesan hidup sangat tergantung pada bantuan dan dukungan orang lain, terutama mereka yang paling dekat dengan kita (baca: sahabat). Itulah sebabnya pakar hubungan antar manusia, Les Giblin pernah mengatakan 90 persen kegagagalan dalam kehidupan seseorang adalah karena gagal dalam membina hubungan baik dengan orang lain. Sebuah penelitian bahkan mengatakan kalau kesuksesan seorang salesman 85 persen ditentukan oleh kemampuan berhubungan baik dengan orang lain ( people knowledge) dan hanya 15 persen ditentukan oleh pengetahuan tentang produk (product knowledge). (more…)

Kategori : Cahaya Inspirasi, ResonansiSaturday, 13 August 2005

Suatu ketika di sebuah sekolah, diadakan pementasan drama. Pentas drama yang meriah, dengan pemain yang semuanya siswa-siswi disana. Setiap anak mendapat peran, dan memakai kostum sesuai dengan tokoh yang diperankannya. Semuanya tampak serius, sebab Pak Guru akan memberikan hadiah kepada anak yang tampil terbaik dalam pentas. Sementara di depan panggung, semua orangtua murid ikut hadir dan menyemarakkan acara itu.

Lakon drama berjalan dengan sempurna. Semua anak tampil dengan maksimal. Ada yang berperan sebagai petani, lengkap dengan cangkul dan topinya, ada juga yang menjadi nelayan, dengan jala yang disampirkan di bahu. Di sudut sana, tampak pula seorang anak dengan
raut muka ketus, sebab dia kebagian peran pak tua yang pemarah, sementara di sudut lain, terlihat anak dengan wajah sedih, layaknya pemurung yang selalu menangis. Tepuk tangan dari para orangtua dan guru kerap terdengar, di sisi kiri dan kanan panggung.

Tibalah kini akhir dari pementasan drama. Dan itu berarti, sudah saatnya Pak Guru mengumumkan siapa yang berhak mendapat hadiah. Setiap anak tampak berdebar dalam hati, berharap mereka terpilih menjadi pemain drama yang terbaik. Dalam komat-kamit mereka berdoa, supaya Pak Guru akan menyebutkan nama mereka, dan mengundang ke atas panggung untuk menerima hadiah. Para orangtua pun ikut berdoa,
membayangkan anak mereka menjadi yang terbaik.

Pak Guru telah menaiki panggung, dan tak lama kemudian ia menyebutkan sebuah nama. Ahha…ternyata, anak yang menjadi pak tua pemarah lah
yang menjadi juara. Dengan wajah berbinar, sang anak bersorak gembira. “Aku menang…”, begitu ucapnya. Ia pun bergegas menuju panggung, diiringi kedua orang tuanya yang tampak bangga. Tepuk tangan terdengar lagi. Sang orangtua menatap sekeliling, menatap ke seluruh hadirin. Mereka bangga.

Pak Guru menyambut mereka. Sebelum menyerahkan hadiah, ia sedikit bertanya kepada sang “jagoan, “Nak, kamu memang hebat. Kamu pantas mendapatkannya. Peranmu sebagai seorang yang pemarah terlihat bagus
sekali. Apa rahasianya ya, sehingga kamu bisa tampil sebaik ini? Kamu pasti rajin mengikuti latihan, tak heran jika kamu terpilih menjadi yang terbaik..” tanya Pak Guru, “Coba kamu ceritakan kepada kami semua, apa yang bisa membuat kamu seperti ini..”.

Sang anak menjawab, “Terima kasih atas hadiahnya Pak. Dan sebenarnya saya harus berterima kasih kepada Ayah saya dirumah. Karena, dari Ayah lah saya belajar berteriak dan menjadi pemarah. Kepada Ayah lah saya meniru perilaku ini. Ayah sering berteriak kepada saya, maka, bukan hal yang sulit untuk menjadi pemarah seperti Ayah.” Tampak sang Ayah yang mulai tercenung. Sang anak mulai melanjutkan, “.. Ayah membesarkan saya dengan cara seperti ini, jadi peran ini, adalah peran yang mudah buat saya…”

Senyap. Usai bibir anak itu terkatup, keadaan tambah senyap. Begitupun kedua orangtua sang anak di atas panggung, mereka tampak tertunduk. Jika sebelumnnya mereka merasa bangga, kini keadaannya berubah. Seakan, mereka berdiri sebagai terdakwa, di muka pengadilan.

Mereka belajar sesuatu hari itu. Ada yang perlu diluruskan dalam perilaku mereka.

***

Teman, setiap anak, adalah duplikat dari orang di sekitarnya. Setiap anak adalah peniru, dan mereka belajar untuk menjadi salah satu dari kita. Mereka akan belajar untuk menjadikan kita sebagai contoh, sebagai panutan dalam bertindak dan berperilaku. Mereka juga akan hadir sebagai sosok-sosok cermin bagi kita, tempat kita bisa berkaca pada semua hal yang kita lakukan. Mereka laksana air telaga yang merefleksikan bayangan kita saat kita menatap dalam hamparan perilaku yang mereka perbuat.

Namun sayang, cermin itu meniru pada semua hal. Baik, buruk, terpuji ataupun tercela, di munculkan dengan sangat nyata bagi kita yang berkaca. Cermin itu juga menjadi bayangan apapun yang ada di depannya. Telaga itu adalah juga pancaran sejati terhadap setiap benda di depannya. Kita tentu tak bisa, memecahkan cermin atau
mengoyak ketenangan telaga itu, saat melihat gambaran yang buruk.
Sebab, bukankah itu sama artinya dengan menuding diri kita sendiri?

Teman, saya ingin berpesan kepada kita semua, “berteriaklah kepada anak-anak kita saat kita marah, maka, kita akan membesarkan seorang pemarah. Bermuka ketuslah kepada mereka saat kita marah, maka kita akan membesarkan seorang pembenci, dan biarkanlah mulut dan tangan kita yang bekerja saat kita marah, maka kita akan belajar menciptakan seorang yang penuh dengki…”

Peran apakah yang sedang kita ajarkan kepada anak-anak kita saat ini? Contoh apakah yang sedang kita berikan kali ini? Dan panutan apakah yang sedang kita tampilkan? Teman, percayalah, mereka akan selalu
belajar dari kita, dari orang yang terdekatnya, dari orang yang mencintainya. Merekalah lingkaran terdekat kita, tempat mereka belajar, menerima kasih sayang, dan juga tempat mereka meniru dalam berperilaku.

Saya berharap, bisa menjadi orang yang sabar saat melihat seorang anak menumpahkan air di gelas yang mereka pegang. Saya berharap menjadi orang yang ikhlas, saat melihat mereka memecahkan piring makan mereka sendiri. Sebab, bukankah mereka baru “belajar” memegang gelas dan piring itu selama 5 tahun, sedangkan kita telah mengenalnya sejak lebih 20 tahun? Tentu mereka akan butuh waktu untuk bisa seperti kita. Teman, terima kasih telah membaca. Hope you are well and please do take care.
______________
from resonansi mailist from Irfan source