Kategori : Ria Jenaka, Indeks BeritaThursday, 30 November 2006

Laporan Haji
Djoko Tjiptono - detikcom

Makkah - Banyaknya warga Indonesia yang menunaikan ibadah haji setiap tahunnya, membuat warga Arab Saudi sangat akrab dengan Indonesia. Tidak sedikit dari mereka yang bisa berbahasa Indonesia, meski terbata-bata dan lucu kedengarannya.

Di Makkah misalnya, tidak sedikit warga lokal kota ini mengenal baik berbagai hal mengenai Indonesia. Khususnya mereka yang berprofesi sebagai pedagang atau sopir taksi. Mereka akan memasang muka ramah setiap kali melihat rombongan jamaah haji dari Indonesia.

“Apa kabar? Indonesia baguuuus. Indonesia SBY, Amien Rais,” begitulah kata mereka setiap kali tahu bahwa jamaah haji dari Indonesia sambil mengulurkan tangan. Mungkin maksud mereka adalah Indonesia negeri yang indah atau orang Indonesia sangat baik. Entahlah.

Namun terkadang, keterbatasan pemahaman bahasa Indonesia ini menimbulkan berbagai kejadian lucu. Seperti kejadian yang dialami seorang teman wartawan dari sebuah radio. Teman tersebut mendatangi sebuah toko Al Quran. Dia berniat membeli satu buah Al Quran untuk diwakafkan di Masjidil Haram.

Setelah mendapatkan Al Quran yang tepat dengan seleranya, teman tersebut menanyakan harga kitab suci itu. Sang pedagang dengan ramah menjawab 40 Reyal. Merasa terlalu mahal, teman tersebut menawar dan menyebutkan kata 30.

Si penjual mengangguk. Karena menganggap sang pedagang setuju dengan tawarannya, teman tersebut langsung merogoh saku dan kemudian menyodorkan uang 30 Riyal. Tapi dia sangat kaget, pedagang tersebut ternyata menolak dan mengatakan 40 Riyal.

Usut punya usut, anggukan pedagang tadi bukan berarti dia setuju dengan tawaran teman tersebut. Anggukan itu menyatakan bahwa Al Quran tersebut terdiri dari 30 juz. “Ya 30 juz, 40 Riyal,” kata pedagang itu. Teman tersebut hanya bisa tersenyum geli.

“Ya di mana-mana Al Quran memang 30 juz,” kata teman tersebut sambil ngeloyor pergi. Tinggallah si pedagang bingung mengartikan senyum teman saya tersebut.

Oalah ternyata salah paham!(djo/wiq)
______________
sumber : detiknews.com

Kategori : Ria JenakaThursday, 4 August 2005

Seorang raja mengalami sakit mata sebelah kanan sehingga menyebabkan mata ity tak berfungsi lagi untuk melihat, kelopak mata itu pun tertutup, menutupi bola matanya. Dengan memandang sekilas saja, orang akan tahu, mata kanan raja cacat dan buta.

Keadaan itu tidak mengurangi kegiatan raja sehari-hari, namun raja merasa perlu mengangkat seseorang untuk menjadi ajudan khusus yang setiap saat mendamping dirinya. Syaratnya sederhana saja, pertama jujur dan tidak bermental ABS (penjilat), kedua pintar menutupi semua kekurangan dan kelemahan raja.

Ada tiga orang kandidat yang diliriknya. Tetapi ia tak tahu siapa yang paling tepat dari ketiga kandidat itu. Untuk itu, ia meminta saran dari seorang sufi terkenal. Sang sufi membisikkan sesuatu ke telinga raja. Raja mengangguk setuju.

Maka raja memanggil ketiga kandidat itu, meminta masing-masing melukis wajah raja. Ketiganya pun melukis. Setelah selesai, raja menilainya.

Lukisan pertama diamati. Raja dilukis dengan mata sempurna, sama sekali tidak cacat. Pelukisnya memang mampu menyembunyikan cacat dan kekurangan serta kelemahan raja, tetapi tidak dengan cara cerdas, bahkan berdusta, tak jujur serta menjilat, agar hati raja senang. Padahal raja tak terhibur kalau matanya dikatakan sempurna. Kandidat pertama gagal.

Lukisan kedua dinilai. Wajah raja dilukis cacat dengan kelopak mata tertutup. Kata raja di dalam hati: “Kandidat ini memang jujur. Mataku cacat, dilukisnya cacat. Hanya sayang, ia tak mampu menutupi kelemahanku. Yang kucari ialah pendamping yang jujur sekaligus cerdas, sehingga ia mampu menutupi kelemahanku.” Kandidat kedua pun gagal.

Ketika meneliti lukisan ketiga, raja tersenyum. Wajah baginda dilukis tengah berburu di hutan dalam posisi sedang membidik binatang buruan dengan senapang berburu. Layaknya orang membidik, mata sebelah kanan dipejamkan. Raja puas dan berkata, “Kadidat ini diterima.”

Gugup

Karena gugup dipergoki akan mencuri di sebuah masjid, seorang pemuda pengangguran ketika ditanya petugas masjid megapa ia memasuki masjid di luar waktu shalat, berkata:

“Aaaa… nuuu… saya mau tanya disini, shalat Jumat hari apa?”

Mencintai

Seorang kiyai senior memarahi seorang pemuda jahil: “Mengapa kamu berpacaran dengan putri saya? Tak tahukah kamu bahwa berpacaran itu haram, yang berarti berdosa?”

“Anu, Pak Kiyai, kemarin saya dengar Pak Kiyai menyampaikan hadis yang artinya: ‘Belum sempurna iman seseorang sebelum ia mencintai orang lain sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.’

Karena saya ingin punya iman sempurna, maka saya cintai si Halimah, putri Pak Kiyai.”
___________
source : amanah or id, laporan MHM dalam [Senyum Sufi]