SUATU siang pada pengujung Ramadhan di kompleks makam Malikussaleh (1270-1297 Masehi), sekitar 20 kilometer dari Lhok Seumawe, Nanggroe Aceh Darussalam. Pintu gerbang kompleks raja pendiri Kerajaan Samudera Pasai itu terkunci rapat. Daun-daun yang luruh ke tanah dibiarkan berserak di sekitar batu nisan yang terbuat dari batu marmer putih.
Tak ada seorang peziarah pun yang berkunjung ke makam yang terletak di Desa Beringin, Kecamatan Samudera Geudong, Kabupaten Aceh Utara, itu. Di sekitar kompleks makam hanya ada beberapa penduduk setempat yang memandang dengan penuh kecurigaan kepada orang asing yang datang. Sebagian yang lain memilih menghindar.
Baru setelah salah seorang kawan menerangkan maksud kunjungan kami dengan menggunakan bahasa Aceh, sejumlah warga menjadi lebih ramah. Seorang juru kunci datang dan membukakan gerbang makam untuk kami.
“Ini kubur almarhum yang diampuni, yang takwa, pemberi nasihat, yang dicintai, bangsawan, yang mulia, yang penyantun, penakluk, yang digelari dengan Sultan Al Malikussaleh”. Itulah terjemahan dari tulisan berbahasa Arab yang terukir dalam salah satu batu nisan. Persis di samping batu nisan itu terdapat batu nisan Sultan Malikudahir, penerus Sultan Al Malikussaleh.
Sekitar 800 meter dari kompleks makam Malikussaleh, tepatnya di Desa Kuta Krueng, Kecamatan Samudera Geudong, terdapat kompleks makam peninggalan Kerajaan Samudera Pasai, yaitu kompleks makam Ratu Nahrisyah.
JEJAK-jejak kejayaan masa lampau Samudera Pasai telah sirna dan hanya menyisakan sejumlah batu nisan yang mengingatkan pada maut. Padahal, selama abad XIII sampai awal abad XVI, Samudera Pasai dikenal sebagai salah satu kota di kawasan Selat Malaka dengan bandar pelabuhan yang sangat ramai. Bersama dengan Pidie, Pasai menjadi pusat perdagangan internasional dengan lada sebagai salah satu komoditas ekspor utama.
Kebesaran Kerajaan Samudera Pasai telah tertulis dalam catatan Ibnu Battutah, musafir Islam terkenal asal Maroko yang mengunjungi kerajaan pesisir itu sekitar tahun 1345 Masehi. Dalam catatannya disebutkan, setelah berlayar selama 25 hari dari Barhnakar (sekarang masuk wilayah Myanmar), dia mendarat di tanah Pasai yang sangat subur. Menurut dia, perdagangan di daerah itu sangat maju, ditandai dengan penggunaan mata uang emas.
Pada masa pemerintahan Sultan Malikul Dhahir, Kerajaan Samudera Pasai mencapai puncak kejayaan dan menjadi pusat perdagangan internasional. Pedagang-pedagang dari Asia, Afrika, China, dan Eropa berdatangan ke Samudera Pasai. Hubungan dagang dengan pedagang-pedagang Pulau Jawa juga terjalin erat. Produksi beras dari Jawa ditukar dengan lada.
Dalam kisah perjalanannya ke Pasai, Ibnu Battutah menggambarkan Sultan Malikul Dhahir sebagai raja yang sangat saleh, pemurah, rendah hati, dan mempunyai perhatian kepada fakir miskin.
Peran lain dari Samudera Pasai yang sangat penting adalah sebagai pintu gerbang penyebaran agama Islam ke hampir seluruh wilayah Nusantara dan sebagian Asia Tenggara. Saat itu hampir semua mubalig yang menyebarkan Islam di Jawa dan daerah lain berasal dari Pasai.
Para mubalig dari berbagai wilayah Nusantara juga menjadikan Samudera Pasai sebagai tempat belajar agama Islam sebelum mereka kemudian belajar di Mekkah.
Eratnya pengaruh kerajaan Samudera Pasai dengan perkembangan Islam di Jawa juga terlihat dari sejarah dan latar belakang para Wali Songo, yang sebagian di antaranya berasal dari Pasai. Para wali yang berasal dari Samudera Pasai itu di antaranya Maulana Malik Ibrahim dan Raden Rahmat yang bergelar Sunan Ampel.
Sunan Gunung Jati alias Fatahillah, yang gigih melawan penjajahan Portugis di Batavia, lahir dan besar di Pasai. Sunan Kalijaga, penyebar agama Islam di Jawa yang terkenal dengan gubahan wayang kulit sebagai media dakwah, memperistri anak Maulana Ishak, salah seorang sultan Samudera Pasai.
Melihat kebesaran sejarah Kerajaan Samudera Pasai, agaknya tidak berlebihan ketika Ahmad Yus, sang juru kunci makam, mengatakan, “Tanpa keberadaan Kerajaan Samudera Pasai di Aceh, Islam di Jawa dan tempat lain di Nusantara tidak akan pernah ada….”
Kebanggaan orang Aceh terhadap Islam dan kebesaran masa lalu mereka harus dimengerti dengan bijaksana. (AIK)
_______________________
source : kompascyber